Minggu, 09 April 2017

Testimoni Perkuliahan Psikologi Pendidikan

Edit Posted by with No comments
Hallo readers, pada kesempatan kali ini saya akan membagikan pengalaman saya selama mengikuti proses pembelajaran mata kuliah Psikologi Pendidikan yang baru saya pelajari pada semester ke-2 ini. Nah, inilah pengalaman saya selama ini.

Selama mengikuti pelajaran ini, saya merasa senang karena saya dapat mengetahui banyak hal tentang Psikologi Pendidikan. Dalam tiga bulan terakhir, banyak hal yang dapat saya ambil dari mata kuliah ini. Salah satu hal yang berkesan bagi saya adalah observasi sekolah yang pertama kali saya lakukan selama kuliah. Jaket almameter pertama yang melekat pada tubuh saya terasa kebesaran karena harus meminjam dari abang saya. Suatu kebanggaan dapat memakai jaket tersebut yang dilihat oleh orang lain. Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika observasi, bagaimana suatu sekolah dapat dilihat aspek psikologisnya. Hal baru tersebut membuat saya semangat untuk belajar di Psikologi. Hal-hal yang berkaitan dengan manusia terkhususnya pada pendidikan, membuat saya sedikit bertanya-tanya apakah memang Psikologi Pendidikan penting untuk sekolah. 

Dengan adanya observasi ini, saya juga merasa senang karena dapat berkomunikasi dengan orang lain, dan dapat mengamati tingkah laku murid-murid dalam kelas. Menurut saya, observasi dilakukan dengan baik karena murid-murid antusias dengan kedatangan kami dan adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan kegiatan kami.

Selain itu, saya senang dengan cara pembelajaran dari para dosen yang fun learning. Karena pembelajaran yang mereka lakukan membuat saya lebih mengerti. Salah satu fun learning yang mereka lakukan yaitu membuat resume di blog. Hal tersebut membuat saya dapat belajar melalui blog tanpa harus membuka buku. 

Demikian lah pengalaman saya yang dapat saya sampaikan di blog ini. Semoga pembelajaran yang telah disampaikan dapat menjadi ilmu yang berguna untuk kita semua. Sampai jumpa di tulisan aku yang lain yaaaaa.. makaciiiiiii

Selasa, 04 April 2017

Laporan Observasi Kelompok 6 Psikologi Pendidikan

Edit Posted by with No comments
Topik : Pembelajaran Observasional pada Usia Remaja
Judul : Pembelajaran Observasional pada Siswa SMP Muhammadiyah 57

BAB 1
PERENCANAAN

1.1 PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang paling terpenting dalam kehidupan seseorang. Pendidikan merupakan proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untukdapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi orang yang terdidik itu penting.Bukan tidak ada alasan pemerintah memberlakukan aturan wajib 12 tahun. Dengan waktu 12 tahun, diharapkan individu akan mampu melatih kemampuan mereka dan siap untuk bekerja. Masa remaja awal atau masa ketika sekolah menengah pertama merupakan masa-masa transisi antara anak akhir ke tahap yang lebih tinggi yaitu masa remaja.
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen dan diperoleh dari pengalaman.Walaupun zaman semakin canggih namun masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia khususnya Medan yang masih menerapkan pembelajaran dengan teori atau hanya berfokus pada buku.Pembelajaran seperti ini, dapat menimbulkan kejenuhan atau kebosana pada remaja.Oleh karna itu, remaja membutuhkan pembelajaran yang dapat menarik atensi atau perhatian mereka sehingga dapat menumbuhkan motivasi untuk belajar.Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran observasional. Pembelajaran observasional atau observational learning adalah pembelajaran dengan cara melihat perilaku orang lain atau modeling.

1.2 LANDASAN TEORI
1.2.1 Sejarah dan Tokoh
Albert Bandura tumbuh di Alberta Utara, Kanada, adalah salah satu tokoh utama teori kognitif sosial. Setelah mendapatkanPh.D.-nya dari lowa pada 1952, Bandura masuk Stanford University, dimana dia menghabiskan seluruh karier akademisnya di sana. Di Stanford, Bandura mulai meneliti proses interaktif dalam psikoterapi; dan juga meneliti pola keluarga yang menimbulkan keagresifan pada diri anak-anak. Studi pada penyebab agresi keluarga, dilakukan dengan kerja sama dengan Richard Walters –mahasiswanya –mengidentifikasikan peran utama modeling (belajar melalui pengamatan terhadap orang lain). Temuan ini dan penelitian laboraturium lanjutan terhadap pemrosesan modeling dituangkan dalam buku Adolescent Aggression (Bandura & Walters, 1959) dan Social Learning and Personality Development (Bandura & Walters, 1963). Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Bandura (1965) yaitu studi Boneka Bobo Klasik mengilustrasikan bagaimana pembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yang bukan sebagai penguat atau penghukum. Poin penting dari studi ini adalah bahwa pembelajaran observasional terjadi sama ekstensifnya baik ketika perilaku agresif diperkuat maupun tidak diperkuat. Pembelajaran observasional Bandura ini merupakan bukti dimensi kehidupan yang tidak dapat dihindari. Anak bisa belajar bahasa dengan mengobservasi orang tua, guru,teman, dan orang lain berbicara. Dalam menempuh pendidikan formal, pembelajaran observasional merupakan salah satu cara yang baik bagi siswa agar mereka lebih mudah mempelajari sesuatu dengan mengamati model yaitu guru.

1.2.2 Remaja
Remaja (adolescence) adalah transisi dari masa anak-anak ke usia dewasa. Periode ini dimulai sekitar usia sepuluh tahun atau dua belas tahun sampai ke usia delapan belas atau dua puluh tahun.
Ciri-Ciri Perkembangan Remaja
Perkembangan remaja terlihat pada ciri-ciri sebagai berikut :
·         Perkembangan Biologis
Perubahan fisik pada pubertas merupakan hasil aktifitas hormonal dibawah pengaruh sistem saraf pusat. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak pada pertumbuhan peningkatan fisik dan pada penampakan serta perkembangan karakteristik seks sekunder.
·         Perkembangan Emosional
Remaja mulai sering marah-marah atau berperilaku kasar, bersikap egois, suka memberontak, dan ingin selalu diperhatikan.
·         Perkembangan Kognitif
Remaja mulai berfikir abstrak dan remaja juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi.
·         Perkembangan Spiritual
Remaja mampu memahami konsep abstrak dan menginterpretasikan analogi serta simbol-simbol. Mereka mampu berempati, berfilosofi dan berfikir secara logis.
·         Perkembangan Sosial
Remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari kewenangan keluarga. Masa remaja adalah masa dengan kemampuan bersosialisasi yang kuat terhadap teman dekat dan teman sebaya.

1.2.3 Pendidikan Remaja
Masa remaja (adolescence) adalah periode transisi manusia dari masa kanak-kanak (childhood) ke masa dewasa (adulthood).Adolescence merupakan masa remaja awal berusia 11-14 tahun.Usia ini biasanya remaja sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Remaja yang baru duduk di bangku SMP harus menyesuaikan diri dalam pembelajaran dan lingkungannya karena ini sangat berbeda saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).Dalam hal ini peran orang tua dan sekolah sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak dalam berpikir dan berperilaku.
Sekolah adalah pengalaman pengorganisasian sentral dalam kebanyakan remaja. Sekolah menawarkan kesempatan kepada remaja untuk belajar informasi, menguasai keterampilan baru, dan mempertajam yang lama; untuk berpartisipasi dalam olahraga, seni, kegiatan lainnya; untuk mengeksplorasi pilihan kejuruan; dan untuk memperluas cakrawala intelektual dan sosial.
Dalam observasi yang kami lakukan di SMP Muhammadiyah 57 Medan, sekolah ini sangat memperhatikan tumbuh kembang murid dalam belajar.Murid merupakan prioritas utama bagi mereka yang harus dididik secara langsung.Sekolah ini mempraktikkan sistem pembelajaran observasional agar anak cepat mudah memahami pelajaran.Sebaliknya, pelajaran yang menggunakan teori sedikit. Strategi pembelajaran observasional ini guru yang mempraktikkan langsung kepada murid dan murid mencontohkan apa yang dipraktikan guru.

1.2.4 Pembelajaran Observasional
Teoretikus sosial kognitif menggunakan berbagai prinsip teoretis ini untuk memahami dua aktivitas psikologis utama, atau yang akan disebut di sini sebagai dua fungsi psikologis: (1) menguasai pengetahuan dan keterampilan baru, khususnya melalui proses belajar observasional, dan (2) menggunakan kontrol, atau regulasi diri, terhadap tindakan dan pengalaman emosional sendiri. Teori sosial kognitif menjelaskan bahwa orang dapat belajar dengan hanya mengobservasi perilaku orang lain.
Pembelajaran observasional juga dinamakan imitasi atau modeling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Orang yang diamati disebut model.Modeling mengandung penguasaan informasi melalui observasi orang lain, tanpa secara langsung menyatakan pengamatan tersebut menginternalisasi seluruh gaya tindakan yang dihadirkan oleh individu lain. Kapasitas untuk mempelajari pola perilaku dengan observasi dapat mengeliminasi pembelajaran trial and error yang disebut shapingatau successive approximation (aproksimal berurutan)yang membosankan.
Kemampuan kognitif memungkinkan orang untuk belajar bentuk perilaku kompleks hanya dengan mengamati model yang melakukan perilaku ini.Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bandura (1956), orang-orang dapat membentuk representasi mental internal dari perilaku yang telah mereka observasi, dan kemudian dapat menggunakan representasi mental tersebut pada waktu mendatang.Belajar melalui pemodelan merupakan bukti dimensi kehidupan yang tidak dapat dihindari. Orang-orang belajar tipe perilaku apa yang dapat diterima dan tidak dapat diterima dalam setting sosial yang berbeda dengan mengobservasi perilaku orang lain.
Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Bandura (1965) mengilustrasikan bagaimana pembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yang bukan sebagai penguat atau penghukum.Eksperimen ini juga mengilustrasikan perbedaan antara pembelajaran dan kinerja (performance).
Poin penting dalam studi ini adalah bahwa pembelajaran observasional terjadi sama ekstensifnya baik itu ketika perilaku agresif diperkuat maupun tidak diperkuat. Poin penting kedua dalam studi ini difokuskan pada perbedaan antara pembelajaran dan kinerja.Karena murid tidak melakukan respons bukan berarti mereka tidak mempelajarinya.Bandura percaya bahwa ketika murid mengamati perilaku tetapi tidak memberi respons yang dapat diamati, murid itu mungkin masih mendapatkan respons model dalam bentuk kognitif.

1.2.4.1 Model Pembelajaran Observasional Kontemporer Bandura
Sejak eksperimen awalnya, Bandura (1986) memfokuskan pada proses spesifik yang terlibat dalam pembelajaran observasional. Proses itu adalah: atensi (perhatian), retensi, produksi, dan motivasi.
·         Atensi
Sebelum murid dapat meniru tindakan model, mereka harus memerhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan si model. Murid lebih mungkin memerhatikan model berstatus tinggi daripada model berstatus rendah. Dalam kebanyakan kasus, guru adalah model berstatus tinggi di mata murid.
·         Retensi
Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa diambil kembali. Deskripsi verbal sederhana atau gambar yang menarik dan hidup dari apa yang dilakukan model akan bisa membantu daya retensi murid. Retensi murid akan meningkat jika guru memberikan demonstrasi atau contoh yang hidup dan jelas.
·         Produksi
Murid mungkin memerhatikan model dan mengingat apa yang mereka lihat, tetapi karena keterbatasan dalam kemampuan geraknya, mereka tidak bisa mereproduksi perilaku model. Berlajar, berlatih, dan berusaha dapat membantu murid untuk meningkatkan kinerja motor mereka.
·         Motivasi
Sering kali murid memerhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan informasi dalam memori, dan memiliki kemampuan gerak untuk meniru tindakan model, namun tidak termotivasi untuk melakukannya. Biasanya jika diberi insentif atau penguat, mereka melakukan apa yang dilakukan model.
Bandura percaya bahwa penguatan tidak selalu dibutuhkan agar pembelajaran observasional terjadi. Tetapi jika murid tidak meniru atau mereproduksi perilaku yang diinginkan, ada tiga jenis penguat yang dapat menolong: (1) memberi imbalan pada model, (2) memberi imbalan pada murid, dan (3) memerintahkan anak untuk membuat pernyataan untuk memperkuat diri.

1.2.5 Teaching Strategies: Menggunakan Pembelajaran Observasional Secara Efektif
·         Pikirkan tentang model tipe apa yang akan guru hadirkan untuk murid
Setiap hari, jam demi jam, murid akan melihat dan mendengar apa yang guru katakan dan lakukan. Murid akan menyerap banyak informasi dari guru, seperti kebiasaan baik dan buruk guru, dan aspek lainnya terkait perilaku guru tersebut.
·         Tunjukkan dan ajari perilaku baru
Guru sebagai demonstrasi yang menjadi contoh untuk pembelajaran observasional. Mendemonstrasikan bagaimana melakukan sesuatu adalah perilaku guru yang umum dijumpai di kelas. Saat mendemonstrasikan cara melakukan sesuatu, guru perlu menarik perhatian murid pada detail pembelajaran yang relevan. Demonstrasi guru juga harus jelas dan mengikuti urutan logika. Pembelajaran observasional dapat efektif terutama untuk mengajar perilaku baru (Schunk, 1996).
·         Pikirkan cara menggunakan teman sebaya sebagai model yang efektif
Guru bukan satu-satunya model di kelas. Murid bisa saja mengikuti kebiasaan baik dan buruk yang dilakukan teman-temannya melalui pembelajaran observasional. Ingat bahwa murid sering kali termotivasi untuk meniru model berstatus tinggi. Sebaiknya diberi model seorang murid berprestasi rendah yang berjuang dengan susah payah sampai bisa menguasai suatu perilaku (Schunk, 1996).
·         Pikirkan cara agar mentor dapat digunakan sebagai model
Murid dan guru memperoleh manfaat jika punya mentor yang berfungsi sebagai model kompeten dan bersedia membantu mereka mencapai tujuan. Sebagai guru, mentor bagi guru sendiri adalah guru yang lebih berpengalaman yang sudah lama mengajar dan punya pengalaman bertahun-tahun dalam menghadapi problem dan isu yang akan harus ditanggapi.
·         Cari tamu kelas yang akan memberikan model yang baik bagi murid
Untuk mengubah kehidupan kelas, undang tamu yang punya sesuatu yang berharga untuk dibicarakan atau ditunjukkan. Jika guru tak punya keahlian yang bisa membuatnya menjadi model untuk murid, luangkan waktu untuk mencari model yang kompeten dalam keahliannya atau melakukan perjalanan dengan membawa murid untuk melihat para ahli menunjukkan keahliannya.
·         Pertimbangkan model yang dilihat anak di televisi, video, dan komputer
Murid mengamati model saat mereka menonton acara televisi, video, film, atau layar komputer di kelas. Individu yang diamati dalam proses belajar observasional tidak harus seseorang yang secara fisik hadir. Dalam masyarakat kontemporer, banyak modelling  yang terjadi melalui media. Prinsip pembelajaran observasional berlaku untuk media ini. Hal ini memengaruhi sejauh mana pembelajaran observasional mereka.

1.3 ALAT DAN BAHAN
-Kamera
-Notes
-Pulpen
-Handphone

1.4  ANALISIS DATA
Data diperoleh langsung di lembaga pendidikan sekolah yang telah di tentukan. Data yang diperoleh akan diolah sesuai dengan teori pembelajaran observasional. Metode yang kami gunakan untuk memperoleh data  sebagai berikut :
·         Observasi
Kami mengambil data dengan mengobservasi secara langsung kegiatan pada siswa kelas 7A dan 7 B SMP Muhammadiyah 57 mulai dari masuk sekolah hingga pulang sekolah dan kami berfokus pada kegiatan siswa ketika sedang melakukan praktek di lapangan sekolah.

·         Wawancara
Kami juga sempat melakukan wawancara dengan sepuluh siswa 7 A dan 7 B SMP Muhammadiyah 57. Pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan adalah pertanyaan seputar tentang tingkat pemahaman belajar mereka dengan cara melihat guru mempraktekan materi pembelajaran atau belajar sendiri dengan membaca buku.

1.5 SAMPEL PENELITIAN DAN LOKASI PENGAMBILAN DATA
Sampel : Siswa kelas 7A dan 7 B SMP Muhamadiyyah 57
Tempat : SMP Muhamadiyyah 57 Jl.Mustofa No.1, Glugur Darat I, Medan Timur, Kota Medan, Sumatera Utara.

BAB 2
PELAKSANAAN

2.1 SISTEMATIS PELAKSANAAN PENELITIAN
Sekolah yang menjadi tempat pengambilan data kami adalah SMP Muhammadiyah 57 yang bertempat di Jl. Mustofa No.1, Glugur Darat I, Medan Tim, Medan. Berikut adalah susunan pelaksanaan kegiatan kami:
No.
Kegiatan
Tanggal
1.
Permohonan surat izin dari fakultas
15 Maret 2017
2.
Diskusi pemilihan topik dan judul
17 Maret 2017
3.
Diskusi perencanaan kegiatan
17 Maret 2017
4.
Meminta izin dan memperoleh izin dari SMP Muhammadiyah 57
18 Maret 2017
5.
Observasi
18 Maret 2017
6.
Pengolahan data
23 Maret 2017
7.
Diskusi kelompok
27 Maret 2017
8.
Pembuatan poster
30 Maret 2017
9.
Posting blog
4 April 2017

BAB 3
LAPORAN DAN EVALUASI DATA

3.1 LAPORAN
3.1.1 Sistematis Observasi
·         Kegiatan observasi kami lakukan pada hari Sabtu, 18 Maret 2017. Dengan sampel yang kami pilih adalah kelas 7 A dan kelas 7 B. SMP MUHAMMADIYAH 57 masuk pada pukul 07.15 WIB. Anak-anak sudah melakukan aktifitas seperti biasa yaitu berdoa dan mengaji terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran.
·         Kelas yang kami observasi adalah kelas 7 A. Pada pukul 08.00 WIB anak-anak sudah memulai pembelajaran yang diberikan oleh guru. Pada jam pelajaran pertama siswa kelas 7 A belajar sholat yang disimulasikan langsung oleh guru didepan siswa-siswanya dan guru memilih 2 siswa laki-laki secara acak untuk mengikuti gerakan yang dia contohkan. Dan terlihat bahwa rata-rata siswa kelas 7 A memperhatikan apa yang sedang diperagarakan oleh gurunya. Kami mewawancarai 10 dari mereka mengenai pembelajaran observasional, dan kesimpulannya mereka lebih menyukainya dan lebih mudah untuk dipelajari.


·         Dikelas 7 B, kegiatan pembelajarandilakukan dengan belajar individual dimana guru hanya memantau kegiatan siswanya. Dan terlihat siswa ada siswa yang belajar dengan serius dan ada siswa yang melakukan kegiatan selain belajar.



·         Lalu kami memakai waktu mereka untuk beberapa menit untuk bertanya apakah pembelajaran observasional lebih memudahkan mereka dalam memahami pelajaran, dan kami bertanya lebih khusus kepada 10 orang siswa dari kelas tersebut. Dan mereka mengatakan pembelajaran secara observasional lebih menyenangkan karena siswa lebih mendapat arahan tentang pelajaran tersebut dan pembelajaran diluar kelas bagi mereka lebih menyenangkan karena mereka lebih bebas dari duduk yang membosankan didalam kelas.

·                         Karena kegiatan observasi yang kami lakukan bertepatan pada hari sabtu, waktu pembelajaran lebih singkat yaitu hanya sampai pukul 10.00 WIB. Untuk hari Senin-Jumat pembelajaran dimulai pada pukul 07.15 WIB hingga pukul 16.00 WIB.
Pada tiap tingkat (kelas 7, kelas 8, kelas 9) memiliki kapasitas siswa di kelas yang berbeda-beda.Pada kelas 7 terdapat dua kelas yang berkapasitas 36 & 37 siswa ditiap kelas.Pada kelas 8 terdapat dua kelas yang berkapasitas 46 & 47 siswa ditiap kelas.Dan pada kelas 9 terdapat tiga kelas yang berkapasitas 43, 34 dan 20 siswa ditiap kelas.
Di SMP Muhammadiyah 57 salah satu sistem pembelajaran menerapkan pentingnya pembelajaran observasional kepada siswa-siswanya.Sekolah yang berjumlah 262 siswa ini memiliki sistem pembelajaran yang unik karena siswa tidak pernah diberi PR (pekerjaan rumah). Guru akan berperan begitu baik dalam menyampaikan pembelajaran dan siswa akan menggunakan waktu belajar dengan serius ketika disekolah dan dapat beristirahat ketika waktu pulang.

3.2 EVALUASI DATA
Kepala sekolah SMP Muhammadiyah 57 jugamenerapkan  pembelajaran observasional agar membantu siswa-nya lebih mudah dalam memahami pelajaran yang dilihat langsung bagaimana praktik yang dilakukan oleh guru daripada membaca teori yang sulit dipahami apabila tidak dilihat secara langsung bagaimana mekanismenya. Menurut kelompok kami SMP Muhammadiyah menekankan pentingnya pembelajaran observasional dalam meningkatkan sistem pembelajaran siswa-siswanya.Karena dengan kemampuan kognitif yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk mempelajari sesuatu dengan mengamati model yaitu guru. Dari hasil wawancara kami dengan 10 siswa kelas 7A SMP Muhammadiyah 57, 10 dari mereka lebih menyukai dan mudah memahami materi dengan pembelajaran observasional daripada pembelajaran dengan membaca buku dikelas, dan juga 10 siswa dari Kelas 7 B lebih menyukai pembelajaran observasional daripada harus terpaku pada pembelajaran individual. Seperti yang kami observasi pada saat itu, kelas 7A sedang belajar tentang bagaimana gerakan-gerakan dari sholat yang benar. Dengan mengamati model bagaimana gerakan sholat yang benar mereka jadi lebih paham bagaimana bentuk dari setiap gerakannya daripada membaca buku yang memberikan kalimat-kalimat yang susah mereka bayangkan bagaimana maksud dari kalimat dalam buku tersebut. Dengan melihat model yaitu guru mereka dapat mempraktikan gerakan sholat yang benar tersebut dalam sholat mereka daripada membaca buku yang mungkin membuat persepsi mereka berbeda dengan yang dimaksud oleh buku mengenai gerakan sholat yang benar. Seperti yang telah dibahas pada bab 2, Bandura memfokuskan pada proses spesifik yang terlibat dalam pembelajaran observasional tetapi, yang akan kami sesusikan dengan siswa kelas 7 A dan 7 B adalah hanya 3 proses. Proses itu adalah :
·         Atensi : Sebelum siswa SMP Muhammadiyah dapat meniru model, mereka harus memperhatikan apa yang dilakukan dan dikatakan si model yaitu guru. Guru akan memberikan penjelasan dan praktik dari gerakan sholat yang benar sehingga murid harus memiliki atensi terhadap guru agar mereka memahami apa yang sedang diajarkan oleh guru. Murid lebih mungkin memperhatikan model berstatus tinggi ketimbang berstatus rendah. Guru adalah model berstatus tinggi di mata siswa-siswa SMP Muhammadiyah 57.
·         Retensi : Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa diambil kembali. Deskripsi verbal sederhana atau gambar yang menarik dan hidup dari apa yang dilakukan model akan bisa membantu daya retensi murid. Retensi siswa akan meningkat jika guru memberikan demonstrasi atau contoh yang hidup dan jelas. Guru kelas 7A memberikan contoh langsung kepada siswa-siswa SMP Muhammadiyah 57 sehingga retensi pada mereka meningkat.
·         Motivasi : Sering kali anak memperhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan informasi dalam memori, dan memiliki kemampuan gerak untuk meniru tindakan model, namun tidak termotivasi melakukannya. Guru kelas 7A yang memberikan contoh mengatakan “kalian harus memperhatikan saya dengan baik bagaimana gerakan-gerakan sholat yang benar. Nanti ketika saya sudah selesai memberikan contoh langsung bagaimana gerakan-gerakan sholat yang benar itu, bagi kalian yang dapat mempraktikan ulang gerakan yang sudah saya ajarkan, maka kalian boleh beristirahat duluan sehingga kalian memiliki waktu istirahat sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. Semakin cepat kalian maju kedepan untuk mempraktikannya semakin banyak waktu istirahat yang kalian miliki”. Ketika guru memberikan insentif atau penguat (diperbolehkan istirahat duluan apabila bisa mempraktikan ulang gerakan sholat yang di contoh-kan oleh guru), mereka lebih termotivasi untuk melakukan apa yang dilakukan model.

3.3 TESTIMONI
Rossy A Dalimunthe (161301176)
Kegiatan observasi ke sekolah ini adalah tugas observasi pertama saya dari mata kuliah psikologi pendidikan.Sehingga saya sangat semangat untuk melaksanakannya. Saya senang dengan kegiatan ini karena dapat lebih meluaskan wawasan saya dan membuat saya lebih bisa berkomunikasi dengan orang lain, dan mengamati tingkah laku murid-murid di dalam kelas. Menurut saya, observasi dilakukan dengan baik karena murid-murid antusias dengan kedatangan kami dan adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan kegiatan kami.

Hanan (161301187)
Saya begitu senang karena dapat melakukan observasi ke sekolah seperti ini, karena ini pengalaman baru yang saya dapat.bahagia rasanya melihat kecerian siswa siswi yang menyambut kami dengan hangat. kegiatan seperti ini akan menambah wawasan kami lebih sempurna.

Ayu Putri Nurjannah (161301190)
Kegiatan observasi ini merupakan tugas pertama yg diberikan dosen kepada saya.Saya sangat senang mengobservasi langsung ke sekolah.Saya jadi tau tentang sistem sekolah yg sangat memprioritaskan murid.Kegiatan ini sangat berpengaruh positif terhadap saya.Saya jadi lebih berani dan mendapatkan informasi yg selama ini tidak saya ketahui.Saya berharap di kemudian hari semoga tugas observasi yang diberikan lebih khusus tidak hanya mengamati dan mewawancarai.

Dinda Diana Yumna (161301191)
Ini merupakan kegiatan observasi pertama saya. Pengalaman pertama ini sangat menyenangkan bagi saya dan Alhamdulillah proses dari pengurusan surat, izin ke sekolah, diskusi kelompok semuanya berjalan lancar. Dengan materi yang diberikan diperkuliahan dan dapat menerapkannya langsung pada kegiatan observasi ini membuat saya jadi lebih bersemangat belajar.

Desri Rahmadiani (161301208)
Ini adalah pertama kalinya saya melaksanakan tugas observasi ke sekolah. Pihak sekolah yang kami kunjungi untuk observasi sangat terbuka menerima kami sehingga proses yang kami lalui tidak cukup sulit. Dari mulai persiapan surat dan izin observasi, kami tidak menghadapi kendala. Begitu juga dari pihak sekolah yang terlihat jelas  keramahannya. Melalui tugas ini, kami belajar untuk pintar mengamati dan mengobservasi, serta menambah wawasan dan pengalaman bagi saya.

Fazira Aprilia (161301224)
Tugas observasi dari mata kuliah pendidikan ini membuat pengetahuan dan pengalaman saya tentang observasi dalam dunia psikologi yang sesungguhnya. Bagaimana seharusnya kita bertindak sebagai peneliti sungguhan dan bagaimana cara kita untuk bertindak dengan pengurus sekolah agar dapat izin untuk mengobservasi muridnya. Pengalaman bertemu dengan kepala sekolah yang bukan seperti kepala sekolah pada "umumnya" yang memeberikan izin penuh kepada kami membuat saya makin bersemangat dalam meng-observasi. Semua pengalaman yang saya dapatkan nantinya akan sangat berguna untuk masa depan saya pribadi. Untuk itu, saya akan berusaha untuk memaksimalkannya.

Roudhotul Abadiah (161301229)
Karena ini adalah pengalaman pertama buat saya, jadi saya cukup antusias. Sekolah yang menjadi sampel observasi kami sangat menarik karena sekolah tersebut sangat terbuka dengan kedatangan kami sehingga kami dapat melakukan segala proses observasi dengan mudah. Kegiatan observasi seperti ini membuat kita lebih berani dan peka terhadap lingkungan sekitar,  terkhusus para pelajar di Indonesia.
3.4 POSTER


DAFTAR PUSTAKA
Santrock, W. John.(2004). Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Prenadamedia Group.
Pervin, Cervone, dan John. (2010). Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian, Edisi Kesembilan. Jakarta : Kencana.
Santrock, W.John. (2012). Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup, Edisi Ketigabelas,  Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Minggu, 02 April 2017

Psikologi Pendidikan: Perangkat untuk Mengajar Secara Efektif

Edit Posted by with No comments
Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.

Latar Belakang Historis
      Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan:
1. William James (1842-1910). 
James menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
2. John Dewey (1859-1952).
Dewey membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di AS, di Universitas Chicago, pada tahun 1894. Ide penting dari John Dewey, yaitu:
a. Pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner). Dewey percaya bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif.
b. Pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah agar anak-anak mampu memecahkan masalah secara reflektif.
c. Semua anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya. Dewey adalah salah seorang psikolog yang sangat berpengaruh, ia mendukung pendidikan yang layak bagi semua anak, lelaki maupun perempuan, dari semua lapisan sosio-ekonomi dan etnis.
3. E. L. Thorndike (1874-1949)
Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran

CARA MENGAJAR YANG EFEKTIF
     Karena mengajar adalah hal yang kompleks dank arena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal ini membutuhkan dua hal utama:

1. Pengetahuan dan Keahlian Profesional
   Guru yang efektif memiliki strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, berhubungan secara efektif dengan murid-murid dari beragam latar belakang cultural, dan juga memahami teknologi yang tepat guna di dalam kelas:
a. Penguasan Materi Pelajaran. Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
b. Strategi Pengajaran. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemahaman.
c. Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Inatruksional. Guru harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu, menghabiskan banyak waktu untuk menyusun rencana instruksional, mengorganisasikan pelajaran agar murid meraih hasil maksimal dari kegiatan belajarnya.
d. Keahlian Manajemen Kelas. Agar lingkungan optimal, guru perlu senantiasa meninjau ulang strategi penataan & prosedur pengajaran, pengorganisasian kelompok, monitoring, dan mengaktifkan kelas, serta menangani tindakan murid yang mengganggu kelas.
e. Keahlian Motivasional. Guru yang efektif tahu bahwa murid akan termotivasi saat mereka bisa memilih sesuatu yang sesuai dengan minatnya.
f. Keahlian Komunikasi. Guru yang efektif menggunakan keahlian komunikasi yang baik saat mereka berbicara “dengan” murid, orang tua, administrator, dan tidak terlalu banyak mengkritik, serta memiliki gaya komunikasi yang asertif, bukan agresif, manipulative atau pasif
g. Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan. Guru yang efektif mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang berbeda, dan harus memikirkan cara agar upaya itu berhasil.
h. Keahlian Teknologi. Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan computer ke dalam proses belajar di kelas.

2. Komitmen dan Motivasi
Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid. Komitmen dan motivasi dapat membantu guru yang efektif untuk melewati masa-masa yang sulit dan melelahkan dalam belajar. Guru yang efektif juga punya kepercayaan diri terhadap kemampuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negative melunturkan motivasi mereka.
Semakin baik anda menjadi guru, semakin berharga pekerjaan anda. Dan jika anda semakin dihormati dan sukses di mata murid, maka anda akan meras semakin bertambah komitmen anda.

Sumber:

Santrock, J.W. 2004. Psikologi Pendidikan. Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh: Tri Wibowo BS. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP